Showing posts with label Bab 4. Memasang Pondasi dan Dinding. Show all posts
Showing posts with label Bab 4. Memasang Pondasi dan Dinding. Show all posts

Sunday, February 20, 2011

> Memasang Pondasi Batu Belah

Pondasi merupakan elemen pokok bangunan yang sangat vital,
berfungsi sebagai penyangga konstruksi bangunan di atasnya. Kekuatan
dan kekokohan suatu konstruksi bangunan gedung sangat tergantung
dari konstruksi pondasi.

Konstruksi pondasi suatu bangunan harus memenuhi
persyaratan sebagai berikut:
1. Bentuk dan konstruksinya harus menunjukkan suatu konstruksi yang
kokoh dan kuat untuk mendukung beban bangunan di atasnya.
2. Pondasi harus dibuat dari bahan yang tahan lama dan tidak mudah
hancur, sehingga kerusakan pondasi tidak mendahului kerusakan
bagian bangunan di atasnya.
3. Tidak boleh mudah terpengaruh oleh keadaan di luar pondasi, seperti
keadaan air tanah dan lain-lain.
4. Pondasi harus terletak di atas tanah dasar yang cukup keras
sehingga kedudukan pondasi tidak mudah bergerak (berubah), baik
bergerak ke samping, ke bawah (turun) atau terguling.

Menurut jenisnya, pondasi dapat dibedakan menjadi 2 jenis,
yaitu pondasi langsung dan pondasi tak langsung. Pondasi langsung
adalah pondasi yang dibuat bila kedalaman lapisan tanah keras maksimal
1 meter, sedangkan pondasi tak langsung adalah pondasi yang dibuat
bila kedalaman lapisan tanah keras melebihi 1 meter.

> Menyiapkan Adukan Mortar/Spesi

Mortar adalah suatu bagian pasangan batu yang setara dengan
pasangan batu itu sendiri. Adukan berfungsi untuk membantali satuan
pasangan batunya, yang mendukungan penuh satu sama lain. Adukan
memberi perapatan antara satuan-satuannya untuk mencegah masuknya
air dan angin. Adukan merekatkan satuan-satuan tersebut satu sama lain
untuk mengikatnya menjadi satuan struktural monolitik dan juga penting
untuk penampilan dinding pasangan batu. Jenis adukan yang paling
karakteristik terbuat dari semen portland, kapur hidrasi, agregat (pasir),
dan air.

Pasir harus bersih dan diayak untuk menghilangkan partikel yang
terlalu kasar atau terlalu halus. Semen portland merupakan bahan
perekat pada adukan, tetapi adukan yang terbuat hanya dari semen
portland akan "keras" dan tidak mengalir secara baik pada cetok atau di
bawah bata, sehingga kapur ditambahkan untuk memberikan kelancaran
dan daya kerjanya. Kapur diproduksi dengan cara membakar batu kapur
atau cangkang kerang (kalsium karbonat) dalam tungku untuk menghilangkan
karbon dioksida dan menyisakan kapur tohor (kalsium oksida).

Kapur tohor ini kemudian diberi air dengan membiarkannya
menyerap air sebanyak yang dapat dilakukannya, yang menyebabkan
pembentukan kalsium hidroksida, yang disebut kapur padam atau kapur
terhidrasi. Proses pengairan, yang melepaskan panas dalam jumlah yang
banyak, biasanya dilakukan di pabrik. Kapur hidrasi ini selanjutnya
dikeringkan, digiling, dan dikemas untuk dikirim. Hingga akhir abad ke-19
dan awal abad ke-20, adukan dibuat tanpa semen portland, dan kapur itu
sendirilah yang menjadi bahan perekatnya; adukan ini mengeras dengan
cara menyerap karbon dioksida dari udara untuk menjadi kalsium
karbonat, sebuah proses yang sangat lambat dan tidak merata.

Untuk mencapai suatu daya kerja yang ekivalen dengan adukan
semen portland-kapur, adukan semen pasangan batu diformulasi dengan
campuran tambahan yang menaikkan udara yang menghasilkan
kandungan udara tinggi pada adukan matangnya. Hal ini akan
mengurangi kekuatan rekat antara adukan dan satuan pasangan-batu
ingá kira-kira setengah dari kekuatan adulan konvensional, yang berarti
bahwa kekuatan lentur dan geser dinding tersebut berkurang dan
dindingnya lebih dapat diresapi oleh air.

Oleh karena itu hanya adukan
semen-kapur konvensional yang harus ditentukan untuk pekerjaan
pasangan batu yang membutuhkan kekuatan tinggi dan permeabilitas
rendah. Agar mudah, semen adukan yang terdiri atas semen portland
pracampur dan kapur dengan udara yang terbatas, dapat digunakan
dalam membuat adukan semen-kapur.

Semen merah adalah hasil penghancuran bata, genting dan
bahan bakaran lempung lainnya hingga menjadi tepung, semen merah
merupakan bahan tambah hidrolik, semen merah juga merupakan sisasisa
berasal dari bata yang mengalami kerusakan, bata yang pecahpecah
dihancurkan dan diayak untuk dijadikan semen merah.

Pasir merupakan bahan adukan, merupakan bahan batubatuan
dengan ukuran kecil (0,15 mm - 5 mm), syarat-syarat untuk pasir adalah
sebagai berikut :
1. Butir-butir pasir harus berukuran antara 0,15 mm - 5 mm.
2. Harus keras, berbentuk tajam, dan tidak mudah hancur oleh pengaruh
perubahan iklim.
3. Tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5%:
4. Bila mengandung lumpur lebih dari 5% maka harus dicuci.
5. Tidak boleh mengandung bahan organik, garam, minyak dan
sebagainya.
6. Pasir laut tidak boleh dijadikan bahan bangunan kecuali bila telah
diadakan penelitian dan petunjuk dari ahli bangunan.

Pasir untuk pembuatan adukan atau beton harus memenuhi
persyaratan di atas, selain pasir alam (dari sungai atau galian dalam
tanah) terdapat pula pasir buatan yang dihasilkan dari batu yang
dihaluskan dengan mesin pemecah batu.

> Memasang Dinding Batu Bata

Aturan Pemasangan
Dengan aturan pemasangan batu merah kita menghubungkan
batu merah masing-masing bersama mortar menjadi suatu kesatuan yang
juga dapat menerima beban. Siar-siar vertikal selalu diusahakan agar tidak
merupakan satu garis, harus bersilang, seperti terlihat pada gambar berikut.
Siar vertikal pada umumnya kita pilih sebesar 1 cm dan siar horisontal
setebal 1,5 cm.

Cara pemasangan batu bata adalah: sebelum pemasangan
pemasangan perlu dibasahi lebih dahulu atau direndam sebentar di dalam
air. Sesudah lapisan pertama pada lantai atau pondasi dipasang, maka
disiapkan papan mistar yang menentukan tinggi lapisan masing-masing,
sehingga dapat diatur seragam.

Kemudian untuk lapisan kedua dan yang
berikutnya pada batu masing-masing diletakkan adukan (mortar) pada
dinding yang sudah didirikan untuk siar yang horisontal dan pada batu merah
yang akan dipasang pada sisi sebagai siar vertikal. Sekarang batu merah
dipasang menurut tali yang telah dipasang menurut papan mistar sampai
batu merah terpasang rapat dan tepat. Dengan sendok adukan, mortar
yang tertekan keluar siar-siar dipotong untuk digunakan langsung untuk
batu merah berikutnya. Pada musim hujan dinding-dinding pasangan batu
merah yang belum kering harus dilindungi terhadap air hujan.

Kualitas batu merah di Indonesia umumnya kurang baik dan sering
kurang keras dan padat, tidak seperti batu merah yang dibuat di Eropa dan
sebagainya. Hal ini disebabkan oleh bahan dasar dan cara pembuatan yang
masih sering sangat sederhana.

Karena itu, untuk menambah keawetan
terhadap pengaruh-pengaruh iklim, maka terutama dinding batu merah
dengan tebal 11 cm atau 11,5 cm (karena tipisnya dinding terlalu lemah
untuk menahan gaya tekan vertikal dan gaya horisontal atau gaya gempa)
diperkuat dengan rangka yang terdiri dari kolom atau balok beton bertulang
setiap luas tembok 12.00 m2. Kolom beton bertulang ini selalu dipasang di
sudut-sudut, pertemuan dan persilangan dinding, dan pada jarak 3,00 m,
seperti juga terlihat pada gambar berikut:

  

> Dinding Bata Kapur

Ukuran dinding bata kapur 8 cm x 17 cm x 30 cm. Dinding ini
banyak digunakan pada rumah-rumah di pedesaan, perumahan rakyat,
pagar pembatas tanah, atau rumah sederhana. Dinding bata kapur
terbuat dari campuran tanah liat dengan kapur gunung. Macam-.macam
tipe campuran antara lain:
a. campuran bahan: tanah liat + tanah kapur + kapur-bubuk +
semen.
b. Campuran bahan : tras + kapur
c. campuran bahan: tanah liat + pasir + kapur bubuk + pc.

Harganya sangat murah. Waktu pemasangan pun cepat dan
sedikit pemakaian adukan semen-pasir. Bila telah terpasang dan
diplester serta diaci dinding ini tidak akan terlihat dari tanah dan kapur.
Dinding ini memerlukan kolom pengaku (kolom praktis) setiap 2,5 m.

> Dinding Bangunan

Dinding adalah bagian bangunan yang sangat penting perannya
bagi suatu konstruksi bangunan. Dinding membentuk dan melindungi isi
bangunan baik dari segi konstruksi maupun penampilan artistik dari
bangunan. Ditinjau dari bahan mentah yang dipakai, dinding bangunan
dapat dibedakan atas:

1. Bata cetak/bata kapur, adalah batu buatan yang dibuat dari campuran
beberapa bahan dengan perbandingan tertentu, Umumnya digunakan
pada rumah-rumah sederhana di perkampungan, pagar pembatas
tanah dan lain sebagainya.

2. Bata celcon atau hebel, terbuat dari pasir silika. Harganya lebih mahal
dari pada bata merah. Ukuran umumnya 10 cm x 19 cm x 59 cm.

3. Dinding Partisi, bahan yang dipakai umumnya terdiri dari lembaran
multiplek atau papan gipsum dengan ketebalan 9-12 mm.

4. Batako dan blok beton, adalah batu buatan yang dibuat dari
campuran bahan mentah: tras+ kapur + pasir dengan perbandingan
tertentu. Batu buatan jenis ini bentuknya berlubang, model dan lubangnya
dibuat bermacam variasi model. Blok beton, adalah batu
buatan yang dibuat dari campuran bahan mentah: semen + pasir
dengan perbandingan tertentu, sama juga dengan bataco, blok beton
ini juga berlubang.

5. Batu bata (bata merah),pada umurnnya merupakan prisma tegak
(balok) dengan penampang empat persegi panjang, ada juga batu
bata yang berlubang-lubang, batu bata semacam ini kebanyakan
digunakan untuk pasangan dinding peredam suara. Ukuran batu bata
di berbagai tempat dan daerah tidak sama besamya disebabkan oleh
karena belum ada keseragaman ukuran dan teknik pengolahan.
Ukuran batu bata umumnya berkisar 22 x 10,5 x 4,8 cm sampai 24 x
11,5 x 5,5 cm.

> Dinding Partisi

Sesuai dengan namanya dinding partisi memang dikhususkan
untuk sekat antar ruang. Karena di desain sebagai sekat antara ruang
satu dan yang lain, dinding ini memiliki desain konstruksi yang lebih
praktis dan ringan dibanding dengan konstruksi dinding yang lain. Bahan
partisi untuk dinding jenis ini termasuk bagus dan murah. Sayangnya
dinding ini tidak bisa digunakan untuk dinding luar (eksterior).

Ini disebabkan sifat bahannya yang kurang menjamin faktor keamanan dari
gangguan luar. Disamping tidak cocok untuk konstruksi terbuka, dinding
jenis ini juga tidak dirancang untuk memikul beban yang berat. Dinding
macam ini banyak digunakan sebagai bahan penyekat ruangan, terutama
di perkantoran.

Bahan yang dipakai umumnya terdiri dari lembaran multiplek atau
papan gipsum dengan ketebalan 9-12 mm. Bahan lain yang bagus untuk
partisi adalah papan semen fiber glass. Bahan tersebut terbuat dari
campuran semen dan fiber glass sehingga sangat kuat. Pemasangan ke
rangka (kayu atau hollow) menggunakan sekrup. Bahannya mudah
dipotong hanya menggunakan gergaji.

Ketebalannya beragam mulai dari 4 mm, 6 mm, 9 mm, 12 mm, dan 15 mm. Panjang dan lebarnya sama
dengan ukuran lembaran tripleks, yaitu 122 cm x 244 cm. Dari segi beban
terhadap bangunan, dinding partisi dapat diabaikan. Untuk dinding partisi
yang memakai bahan multiplek bisa dikatakan kurang aman, mengingat
bahan mudah terbakar dan mudah mengelupas bila sering terkena air.

Secara umum pemakaian partisi selalu dibuat dua lapis, untuk luar dan
dalam. Bila dana terbatas, gunakan bahan partisi ini untuk pembatas
ruangan. Jenis bahan disesuaikan dengan selera dan besarnya biaya.


Dewasa ini penggunaan dinding partisi semakin meningkat seiring
dengan meningkatnya kebutuhan perumahan dan perkantoran yang tidak
hanya mempertimbangkan faktor biaya dan waktu yang dihabiskan dalam
membangun suatu bangunan. Dinding partisi ini diharapkan mampu
menjawab kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat di sektor real.

Sementara ini dinding partisi merupakan hasil dari pengembangan
teknologi yang tepat guna. Dimana perkembangan teknologinya selalu
meningkat sejalan dengan inovasi produsen dinding partisi ini.

> Dinding Bata Hebel Atau Celcon

Dinding bata hebel atau celcon adalah bahan bangunan
pembentuk dinding dengan mutu yang relatif tinggi. Penjualan bata jenis
inipun tidak diretail pada setiap agen atau toko material. Pembelian
biasanya harus dengan memesan terlebih dahulu. umumnya berukuran
10 cm x 19 cm x 59 cm.

Bahannya terbuat dari pasir silika. Bata jenis ini
harganya lebih mahal kurang lebih 16,5 % dari harga dinding bata merah
untuk setiap 1 m2 terpasang. Dinding jenis ini sering digunakan pada
rumah-rumah mewah, hotel, apartemen, monumen dan gedung-gedung
mewah yang lain.

Kelebihan yang dimiliki dinding ini adalah cepatnya proses
pemasangan, mudah dalam pemotongan karena hanya menggunakan
gergaji, bahannya tahan api dan air serta kedap suara. Dinding jenis ini
bisa saja tidak diplester, cukup diaci saja karena permukaannya yang
sudah relatif rata dan permukaan batu yang lebar. Hanya saja ketebalan
kusennya harus disesuaikan. Selain itu, dalam praktik pemasangan
sangat sedikit bahan yang terbuang.


Jarak pemasangan kolom penguat sama dengan yang
disyaratkan pada bata merah. Pemesanan tidak dilakukan secara unit,
melainkan dalam ukuran 1 m3. Untuk 1 m3 bata jenis ini bisa digunakan
untuk pasangan dinding seluas 11,5 m2. Namun hal ini tergantung juga
dengan ketebalan dinding, bisa saja kurang dari 11,5 m2 bila
ketebalannya lebih besar.

> Macam Pasangan Batu Bata




> Dinding Batu Bata

Dinding bata merupakan dinding yang paling lazim digunakan
dalam pembangunan gedung baik perumahan sederhana sampai
pembangunan gedung-gedung yang ukurannya besar. Karena itu
pasangan batu bata memiliki seni tersendiri dalam sistem
pemasangannya dalam konstruksi dinding.

Pembuatan batu bata harus memenuhi peraturan umum untuk
bahan bangunan di Indonesia NI-3 dan peraturan batu merah sebagai
bahan bangunan NI-10. Batu merah dibuat dengan menggunakan
bahan-bahan dasar :
1) Lempung (tanah liat), yang mengandung silika sebesar 50 %
sampai dengan 70%.
2) Sekam padi, fungsinya untuk pencetakan batu merah, sebagai
alas agar batu merah tidak melekat pada tanah, dan permukaan
batu merah akan cukup kasar. Sekam padi juga dicampur pada
batu merah yang masih mentah. waktu pembakaran batu merah
akan terbakar dan pada bekas sekam padi yang terbakar akan
timbul pori-pori pada batu merah
3) Kotoran binatang, dipergunakan untuk melunakkan tanah,
digunakan kotoran kerbau, kuda dan Iain-lain. Fungsi kotoran
binatang dalam campuran batu merah ialah membantu dalam
proses pembakaran dengan memberikan panasnya yang lebih
tinggi di dalam batu merah.
4) Air, digunakan untuk melunakkan dan merendam tanah.
Lempung yang sudah dicampur dengan sekam padi dan kotoran
binatang kemudian direndam dengan air ini beberapa waktu
lamanya.

Campuran itu direndam selama satu hari satu malam dengan
kondisi yang sudah bersih dari batu-batu kerikil atau bahan lain yang
dapat menjadikan kualitasnya jelek. Kemudian dicetak dengan
menggunakan cetakan dari kayu, bisa juga digunakan cetakan dari
baja. Untuk mempermudah lepasnya batu merah yang dicetak, maka
bingkai cetakan dibuat lebih besar sedikit ke bawah dan dibasahi
dengan air.

Batu merah yang belum dibakar juga disebut batu hijau. Sesudah
keras bata dapat dibalik pada sisi yang lain. Lalu ditumpuk datam
susunan setinggi 10 atau 15 batu. Susunan ini terlindung dari sinar
matahari dan hujan. Pengeringan ini membutuhkan waktu selama 2 hari s/d 7 hari.

Pembakaran batu hijau ini dilakukan setelah batu itu kering dan
disusun sedemikian rupa, sehingga berupa suatu gunungan dengan
diberi celah-celah lobang untuk memasukkan bahan bakar.

Hasil batu merah yang baik bakarannya, tergantung dari
banyaknya batu merah yang dibakar. Kalau yang dibakar sedikit saja,
persentase hasil pembakaran lebih banyak. Pada umumnya kerusakan
batu merah dalam proses pembakaran sekitar 20% sampai 30%. Bahan
bakarnya menggunakan kayu atau sekam padi. Setelah selesai proses
pembuatan, batu merah selalu harus disimpan dalam keadaan cukup
kering. Bila tidak ada gudang, maka dilindungi dengan plastik terhadap air hujan.

Sebelum munculnya tungku-tungku modern, bata paling sering
dibakar dengan cara menumpuknya dalam jajaran longgar yang disebut
sebagai tungku bata-lapangan dengan tanah atau lempung, menyalakan
api di bawah jajaran tersebut, dan mempertahankan api itu selama
beberapa hari. Setelah mendingin, tungku bata-lapangan itu dibongkar
dan batanya dipilah sesuai dengan derajat pembakaran yang telah dialaminya.

Batu bata yang berdekatan dengan api (bata klingker) sering
mengalami kelebihanbakar dan terdistorsi, yang membuatnya menjadi
tidak menarik, dan oleh sebab itu tidak sesuai digunakan pada pekerjaanbata
ekspos. Bata-bata dalam zona tungku bata-Iapangan di dekat api
akan terbakar sempuma tetapi tidak terdistorsi, ini sesuai untuk bata
lapis-muka di bagian luar dengan derajat daya-tahan terhadap cuaca
yang tinggi.

Bata yang paling jauh dari api akan menjadi lebih lunak dan akan
dipinggirkan untuk digunakan sebagai bata belakang, sementara
sejumlah bata dari sekitar keliling tungku bata-Iapangannya tidak cukup
terbakar dan hasilnya tidak baik, bahkan tidak dapat digunakan untuk
keperluan apapun, bata yang seperti ini akan dibuang. Sebelum
pengangkutan mekanik ditemukan, bata untuk suatu bangunan biasanya
diproduksi dari tanah yang diperoleh dari tapak bangunan atau tidak jauh
di sekitar lokasi yang akan didirikan bangunan.

Ciri-ciri batu merah yang baik ialah :
1) Permukaannya kasar
2) Warnanya merah seragam (merata)
3) Jika dipukul Bunyinya nyaring
4) Tidak mudah hancur atau patah.

Ukuran-ukuran batu merah bermacam macam tergantung kegunaan
dan pesanan, namun umumnya di Indonesia ukuran standar seperti berikut :
1) panjang 240 mm, lebar 115 mm, tebal 52 mm atau
2) panjang 230 mm, lebar 110 mm, tebal 50 mm
Penyimpangan terbesar, dari ukuran-ukuran seperti tersebut di atas
ialah: untuk panjang maksimal 3 %, lebar maksimal 4 % dan tebal maksimal
5 %. Tetapi antara bata-bata dengan ukuran-ukuran terbesar dan bata-bata
dengan ukuran-ukuran ter-kecil, selisih maksimal yang diperbolehkan ialah:
untuk panjang 10 mm, untuk lebar 5 mm dan untuk tebal 4 mm.

Batu merah dapat dibagi atas tiga tingkat seperti berikut:
1) Batu merah mutu tingkat I dengan kuat tekan rata-rata lebih
besar dari 100 kg/cm2 dengan ukuran yang sama tanpa
penyimpangan.
2) Batu merah mutu tingkat II dengan kuat tekan rata-rata antara
80 kg/cm2 dan 100 kg/cm2 dan ukurannya menyimpang 10%.
3) Batu merah mutu tingkat III dengan kuat tekan rata-rata antara
60 kg/cm2 dan 80 kg/cm2 dan ukurannya menyimpang 20%.

> Dinding Batako

Batako merupakan batu buatan yang pembuatannya tidak dibakar,
bahannya dari tras dan kapur, juga dengan sedikit semen portland,
Pemakaiannya lebih hemat dalam beberapa segi, misalnya: per m2 luas
tembok lebih sedikit jumlah batu yang dibutuhkan, sehingga kuantitatif
terdapat penghematan. Terdapat pula penghematan dalam pemakaian
adukan sampai 75 %.

Beratnya tembok diperingan dengan 50 %, dengan
demikian juga pondasinya bisa berkurang. Namun demikian masih lebih
mahal jika dibanding dengan bata kapur Bentuk batu batako yang
bermacam-macam memungkinkan variasi-variasi yang cukup, dan jika
kualitas batu batako baik, dinding batako tidak perlu diplester. Batu batako
dapat dibuat dengan mudah dengan alat-alat atau mesin yang sederhana
dan tidak perlu dibakar. Namun bahan bangunan tersebut masih baru di
Indonesia, cara-cara pembuatan, pemakaian pemasangan maupun adukanadukannya
dapat dipelajari dengan seksama.

Tras dan kapur dengan perbandingan 5 : 1 jika kualitas tras
cukup baik, jika perlu ditambah dengan sedikit semen portland, diaduk
sebaik-baiknya dalam keadaan kering. Tempat pembuatan adukan
harus bersih dan terlindung dari hujan. Kemudian adukan yang kering
diaduk dengan air secukupnya. Untuk mengetahui kadar air dari suatu
adukan dibuat bola-bola adukan, yang digenggam-genggam pada
telapak tangan.

Apabila bola adukan dijatuhkan hanya sedikit berubah
bentuknya, maka kandungan air dalam adukan itu terlalu banyak, dan
bila dilihat telapak tangan tidak berbekas air, maka kadar air adukan
tersebut kurang. Jikalau kadar air tercapai dengan tepat, perataan
dapat dimulai. Batu-batu yang baru dicetak disimpan dalam los agar
terhindar dari panas matahari maupun air hujan, kemudian diletakkan
berderet di rak dengan tidak ditimbun.

Masa perawatan 3 hari sampai 5 hari, guna memperoleh
pengeringan dan kemantapan bentuk. Biarkan masih dalam los dan
biarkan selama 3 minggu sampai 4 minggu untuk memperoleh proses
pengerasan. Di samping itu diusahakan agar di tempat sekitarnya udara
tetap lembab.

Pada pemakaian batu batako diperhatikan hal-hal berikut:
a. Disimpan dalam keadaan cukup kering
b. Penyusunan batu cetak sebelum dipakai cukup setinggi lima lapis, untuk
keamanan dan juga untuk memudahkan pengambilan
c. Pada pemasangan tidak perlu dibasahi terlebih dahulu, serta tidak boleh
direndam air
d. Untuk pemotongan batu batako dipergunakan palu dan tatah untuk
membuat goresan pada batu yang akan dipatahkan.

Aturan batu buatan yang tidak dibakar (batako) sebenarnya tidak
berbeda dengan aturan batu merah. Pada prinsipnya sistem
pemasangannya menggunakan aturan pemasangan batu bata. Pada sudut
bangunan diberi papan mistar yang menentukan tinggi-nya lapisan
masing-masing, sehingga pada tiap-tiap pemasangan lapisan dapat
diberi tali pelurus. Pemasangan batu batako terakhir selalu di tengahtengah.

Untuk memperkuat dinding batu batako juga digunakan rangka
pengkaku yang terdiri dari kolom atau balok beton bertulang yang dicor
di dalam lubang-1ubang batu batako. Kolom beton ini selalu dipasang di
sudut-sudut, pertemuan dan persilangan dinding seperti terlihat pada
gambar diatas. Jika dinding bersilangan salah satu dinding terdiri dari
batu batako yang tidak berlubang, maka digunakan angker besi beton 3/8".

> Pondasi Langsung

Konstruksi dari pondasi langsung dapat berupa pondasi batu
belah/kali, pondasi batu bata, pondasi beton bertulang, pondasi pias,
pondasi plat kaki, dan pondasi balok sloof.

Lebar dasar pondasi dibuat lebih besar dari tebal dinding tembok di atasnya, hal tersebut
dimaksudkan untuk memperkecil beban persatuan luas pada tanah
dasar, karena daya dukung tanah dasar pondasi pada umumnya lebih
kecil dari daya dukung pasangan badan pondasi.

Untuk pondasi langsung yang menggunakan bahan batu kali, batu bata
dan beton tumbuk, tampang badan pondasi membentuk bangun
trapesium, hal tersebut dilakukan selain berguna bagi kestabilan
kedudukan pondasi juga untuk efisiensi.

> Memasang Pondasi Batu Belah

Batu belahi merupakan bahan konstruksi pondasi yang paling
banyak digunakan, karena batu belah yang umumnya didapatkan dari
batu kali tidak mengalami perubahan bentuk dan kualitas bila tertanam di
dalam tanah.

Persyaratan batu belah sebagai bahan konstruksi pondasi
adalah batu tersebut mempunyai permukaan yang kasar, berukuran ± 25
cm, bersih dari segala kotoran. Batu belah yang permukaannya halus
kurang baik dipakai sebagai bahan pondasi, sehingga harus dipecah
terlebih dahulu agar didapatkatkan permukaan yang kasar. Demikian juga
dengan batu belah yang berpori sebaiknya tidak digunakan untuk bahan
konstruksi pondasi. Permukaan batu yang kasar akan membuat ikatan
yang kokoh.

Pada umumnya tampang lintang dari badan pondasi batu belah
berbentuk trapesium dengan lebar sisi bagian atas paling sedikit 25 cm,
sehingga didapatkan susunan batu yang kokoh. Sebelum dipasang, batu
belah harus disiram air terlebih dahulu. Bila tanah dasar pondasi banyak
mengandung air, maka sebelum pondasi dipasang harus disusun terlebih
dahulu pasangan batu kosong yang diisi pasir pada rongga-rongganya.


Bentuk konstruksi pondasi belah antara lain adalah seperti
gambar berikut.

Bila kondisi lapisan tanah banyak mengandung air, maka
sebelum badan pondasi dipasang terlebih dahulu disusun pasangan batu
kosong yang diisi pasir pada rongga-rongganya. Susunan batu kosong
tersebut dinamakan aanstamping, yang berfungsi sebagai drainase
untuk mengeringkan air tanah yang terdapat di sekitar badan pondasi.

> Pondasi Tak Langsung

Konstruksi pondasi tak langsung digunakan bila lapisan tanah
yang baik/keras terdapat cukup dalam dari permukaan tanah. Prinsip
dasar dari konstruksi pondasi tak langsung adalah dengan perantaraan
konstruksi pondasi tak langsung tersebut beban bangunan dipindahkan
ke lapisan tanah dasar pondasi yang baik.

Pada tanah bangunan di mana
lapisan tanah mudah pecah akibat pengaruh panas sinar matahari dan air
sampai cukup dalam dan dan lapisan tanah yang mempunyai daya
dukung besar cukup dalam, bila konstruksi pondasi langsung
dikhawatirkan menyulitkan pelaksanaan pekerjaan dan tidak efisien.

Terdapat bermacam-macam jenis konstruksi pondasi tak langsung,
diantaranya pondasi umpak, gabungan pondasi plat kaki dan umpak,
pondasi sumuran, pondasi tiang straus, dan pondasi tiang pancang.

Bahasan selanjutnya difokuskan pada konstruksi pondasi
langsung berupa pondasi batu belah. Hal tersebut dilakukan mengingat
konstruksi pondasi langsung dengan bahan batu belah amat dominan
digunakan di lapangan.