Showing posts with label Bab 5. Finishing Dinding. Show all posts
Showing posts with label Bab 5. Finishing Dinding. Show all posts

Sunday, February 20, 2011

> Pendahuluan

Dinding yang telah selesai dipasang perlu dilindungi (ditutup)
dengan suatu lapisan dari adukan spesi, agar tembok itu lebih rapi dan
indah. Khusus bidang dinding bagian bawah yang berhubungan langsung
dengan tanah diplester kedap air setinggi ± 20 cm. Sebelum memulai
dengan pekerjaan plesteran, terlebih dahulu serpihan-serpihan adukan,
debu atau kotoran-kotoran lain, yang menempel pada tembok perlu
dibersihkan dengan cara menyiramkan air pada dinding.

Campuran adukan yang dipakai untuk plesteran adalah 1 pc : 2
pasir untuk dinding bagian bawah (kedap air) dan 1 pc : 4 pasir untuk
pekerjaan plester pada bagian tengah dan atas yang tidak berhubungan
dengan air.

Pada sudut-sudut tembok sering terjadi cacat akibat benturan
benda keras, adukan untuk plester bagian sudut harus dibuat lebih kuat
dari bagian lainnya. Sedangkan untuk bagian beton bertulang, sebelum
plesteran dimulai, permukaan beton sebaiknya diberi cairan semen
kental. Hal tersebut dimaksudkan agar antara plesteran dan bagian
permukaan beton dapat menyatu dengan kuat.

> Plesteran

1. Syarat-Syarat Memplester Tembok:
a. Tembok yang akan diplester harus datar.
b. Sebelum memulai memplester tembok harus digaruk dengan
sapulidi dan dibersihkan dengan air tawar (air minum).
c. Tebal lapis plester hanya 1 @ 1,5 cm.
d. Adukan yang dipakai : 1 kapur : 1 tras : 3 pasir, bila perlu dapat
dibuat 1 semen: 3 pasir.

2. Pelaksanaan Memplester Tembok:

a. Tembok yang akan diplester dibagi dalam beberapa bagian (petakpetak).
b. Pada keempat sudut petak tembok dipasang paku dengan kepala
menonjol .± 3 cm dari bidang tembok, untuk merentangkan benang.
c. Jarak benang dari sisi tembok 1,5 cm dan bila ada tembok yang
menempel pada benang, maka temboknya harus dipahat dulu
supaya didapat plester sama tebal dan rata.
d. Di tempat-tempat tertentu yaitu pada paku dan rentangan benang
dibuat plester utama yang berhimpit dengan benang-benang tadi,
sebagai standar tebal plester.
e. Plester utama yang vertikal ini dibuat tiap-tiap jarak 1,00 meter.
Setelah ini selesai, benang dapat dilepas.
f. Diantara 2 lajur plester utama di isi penuh dengan adukan,
kemudian digores dengan penggaris besar dan lurus mulai dari
bawah ke atas untuk memperoleh bidang yang rata.
g. Kemudian bidang yang paling luar dilapisi dengan lapisan encer
(kapur + semen merah + air) sambil digosok dengan papan gosok
supaya permukaan standar yang rata, ini disebut mengaci.
h. Rusuk-rusuk dan sudut pertemuan plester tembok harus merupakan
sudut siku ( = 90 ) dan ini harus diplester dengan adukan 1 semen :
3 pasir supaya tahan benturan-benturan ringan.
i. Setelah lapis ini betul-betul kering, bidang permukaannya disapu
dengan kapur tohor sebanyak 3 kali, dan agar terlihat indah kapur
ini dicampur dengan zat pewarna yang sesuai dengan selera
pemilik bangunan

3. Hal-Hal Yang Harus Diperhatikan :

a. Bahan adukan plester seperti pasir, tras dan kapur yang telah
dicampur rata harus diayak dulu, supaya butiran-butiran kasar
tidak ikut bercampur.
b. Usahakan jangan menggunakan adukan bekas tembok lama
karena daya lekatnya kurang.
c. Pada pekerjaan mengaci, bila dalam ember kapur tadi air
kapumya sudah habis, hanya tinggal butiran-butiran kasar yang
harus dibuang dan diganti dengan campuran yang sarna dan
baru.

4. Cara memplester tembok lama:

a. Sebelumnya lapis plester tembok lama harus dikupas.
b. Siar tegak maupun siar datar harus digaruk sedalam ± 1,5 em.
c. Bagian bata tembok yang lumutan (licin) harus digaruk supaya
permukaannya kasar, agar lapis plester yang bam dapat melekat
dengan baik.
d. Bila ada bagian tembok yang terlalu kering, harus dibasahi
dengan air tawar.
e. Selanjutnya pelaksanaan memplester mengikuti langkah di atas
dari no. 1 sampai 9.

> Pekerjaan Plesteran.

Setelah dinding terpasang sampai atas, mulailah melakukan
pelapisan penutup dinding bata. Pelapisan dilakukan dengan diplester
untuk dinding dalam.
Dinding luar atau batas kavling biasanya hanya
disawut (plesteran tanpa dihaluskan serta tanpa diaci). Sebaiknya saat
memulai suatu pekerjaan plesteran hendaknya dinding batu bata disiram
terlebih dahulu dengan air agar plesteran cepat menempel di dinding.

Setelah seluruh dinding diplester, diamkan beberapa hari agar kadar
airnya cepat hilang. Biasanya setelah kadar air seluruhnya telah
menguap, plesteran akan terlihat retak-retak kecil.

Pekerjaan plester itu biasanya dilakukan pada bidang dinding dan
pada bagian atas pondasi (trasram/semenram). Pekerjaan trasram untuk
mencegah agar kaki tembok tidak mengisap lembab (air) dari tanah.
Adukannya dibuat rapat air yaitu dengan eampuran 1 pc : 2 pasir.

Diantara bagian bawah tembok dengan bagian atas pondasi, sekarang
banyak dipasangi balok beton bertulang (sloof) dengan maksud untuk
meratakan beban bangunan yang diterima oleh pondasi yang sekaligus
berfungsi sebagai trasram.


> Plesteran Lantai Semen

Pengerjaan plesteran lantai semen biasanya menggunakan
bentuk segi empat dengan menggunakan spesi/adukan. Langkahlangkah
dalam plesteran lantai semen adalah;
1. Tentukan letak titik tertinggi sebagai dasar muka lantai, yang
biasanya diambil dibawah pintu.

2. Pemasangan pertama dilakukan di bawah pintu dengan
menggunakan adukan.

3. Dari muka atas pasangan pertama ditarik benang kearah sudutsudut
ruangan lalu pada masing-masing sudut dipasang satu
pasangan lantai sebagai pedoman untuk tinggi muka lantai.

4. Dari tempat pasangan lantai sudut ditarik benang-benang sejajar
tepi ruangan untuk menetapkan letak titik-titik antara atau tengahtengah
ruangan.

5. Di tempat-tempat tersebut dipasang patok. Pada patok dipakukan
papan untuk tarikan-benang, seperti pada pemasangan papan
bangunan. Pemasangan papan harus datar dan diperiksa dengan
alat sipat datar.

6. Dari papan-papan ini direntangkan benang untuk tarikan benang
pemasangan. Mula-mula ditarik benang dari pasangan lantai
pertama di dekat pintu, kemudian pada arah tegak lurus
direntangkan juga benang untuk tarikan-benang kearah silang
lainnya.

7. Dari tempat tarikan benang tersebut dimulai pemasangan
plesteran lantai.

8. Plesteran lantai dilakukan dengan ketebalan ± 2 cm, permukaan
plesteran diratakan sambil digosok-gosok dengan kayu penggosok.

9. Pemasangan dilakukan dengan cara mundur menuju kearah pintu
agar plesteran lantai yang telah selesai dipasang tidak terganggu
oleh pemasangan plesteran lantai berikutnya.

10. Untuk menjaga agar pemasangan ubin yang telah selesai tidak
rusak, pada tempat-tempat tertentu diletakkan papan untuk jalan di
atasnya.

11. Setelah agak kering, permukaan lantai dilapisi campuran semen
murni dengan air yang diulaskan menggunakan ruskam kayu/baja
dan diratakan.

12. Bila menginginkan permukaan plesteran lantai menyerupai ubin,
maka sebelum plesteran mengeras dilakukan penarikan kabel/tali
yang dilekatkan pada permukaan plesteran lantai. Ukuran jarak
antara dapat disesuaikan menurut kebutuhan.


> Plesteran dan Acian Bidang Sudut dan Lengkung

Prinsip pengerjaan plesteran dan acian pada bidang sudut tembok
dan lengkung tembok adalah sama dengan plesteran dan acian pada
dinding tembok. Yang perlu diperhatikan adalah; untuk bidang sudut
tembok, plesteran dan acian sudut harus membentuk garis tegak dan lurus.

Untuk bidang lengkung, plesteran dan acian harus sesuai dengan
bidang lengkung yang diinginkan, bila dinding lengkung tidak rata, maka
fungsi plesteran dan acian bidang lengkung adalah meratakan bidang
lengkung tersebut.


> Pekerjaan Acian Bidang Tembok

Pekerjaan berikutnya adalah mengaci, untuk menutupi adanya
keretakan alami akibat penguapan. Sebelum pekerjaan acian dimulai,
terlebih dahulu lakukan penyiraman agar acian mudah melekat pada
plesteran.
Bila pekerjaan acian telah selesai maka perlakuannya sama
dengan pekerjaan plesteran. Acian didiamkan beberapa hari agar kadar
airnya mengering. Setelah terjadi pengeringan, akan timbul secara alami
keretakan yang disebut retak-retak rambut.

Setelah proses pengacian selesai, pekerjaan selanjutnya adalah
menutupi pari-pari atau retak-retak rambut. Secara umum arang akan
memakai wall sealer (plamur tembak). Plamur tembak diencerkan dengan
air secukupnya. Kemudian diratakan pada permukaan dinding dengan
alat perata. Plamur tembak dapat dijumpai di setiap taka-taka bangunan
dengan berbagai merek.

Secara umum bahan ini lebih banyak dipakai di
peru mahan perkampungan. Plamur tembak tipe ini agak sedikit mahal
karena pengerjaannya akan banyak memakan waktu sehingga
menambah biaya pelaksanaan. Selain itu, pada waktu akan dilakukan
pengecatan, dinding harus diamplas terlebih dahulu.

Di sini banyak dijumpai adanya bilur-bilur bekas guratan alat perata (kape atau alat
perata lainnya) sehingga pengamplasannya juga akan memakan waktu
serta banyak memakai kertas amplas. Bagi mereka yang tetap akan
memakai plamur tembok jenis ini ada beberapa cara yang cukup baik
untuk membuat plamur tembok yang lebih murah dan mudah dibuat sendiri.

Cara lain untuk melapisi keretakan acian adalah memakai plamur
tembok jenis lainnya yang disebut under coat (Iapisan dasar). Bahan ini
diproduksi oleh pabrik cat terkenal dengan berbagai merek. Secara teknik
pemakai bahan tipe ini akan lebih menguntungkan, karena
pelaksanaannya memakai rol cat dinding. Bahannya harus dibuat
seencer mungkin sehingga bidang sasaran akan jauh lebih banyak.

Pengerjaannya pun bisa lebih cepat. Keuntungannya akan dapat
menekan biaya pelaksanaan. Dibuat encer bertujuan agar seluruh bahan
tersebut dapat sempurna mengisi celah-celah retak rambut acian. Bila
dibuat kental, akibatnya pada saat mengering bahan tersebut akan naik
ke permukaan celah-celah yang retak. Selain itu, lebih boros pemakaian
bahannya. Jadi, pekerjaan pengamplasan akan lebih lama dan boros
kertas amplas serta menambah biaya pengerjaan.



> Plesteran dengan Sawutan

Permukaan dinding polos mungkin membuat kesan
menjenuhkan. Aplikasi warna mungkin juga kurang membuat tampilannya
menarik. Agar dinding lebih menarik, maka plesteran dapat dilakukan
dengan sawutan, sehingga hasil plesteran akan membentuk tekstur. Hasil
dari plesteran dengan sawutan dapat membuat dinding lebih berwarna,
terlebih jika terkena sorot cahaya, ada gradasi gelap terang yang dapat
membuat dinding jadi dramatis.

Yang perlu diperhatikan dalam plesteran
dinding dengan sawutan adalah tekstur atau tonjolan-tonjolan pasir halus
di seluruh permukaan dinding jangan sampai melukai tubuh, terlebih jika
pasir yang digunakan agak kasar. Hal tersebut dapat diminimalisir
menggunakan cat yang tepat serta teknik menyawut yang benar,
sehingga permukaan plesteran yang kasar dan tajam dapat dikurangi.

Permukaan dinding disawut dengan menggunakan ayakan lubang kecil
sehingga tekstur yang muncul tidak terlalu menonjol. Hal tersebut akan
membuat gesekan kulit tubuh dengan dinding tidak terlalu berbahaya.
Bahan dan Alat yang digunakan dalam plesteran dinding dengan
sawutan adalah;
1. Cat emulsi , pasir kasar, semen putih
2. Kawat ayam atau kain
3. Roskam, sendok semen, sarung tangan

Langkah Pengerjaan untuk plesteran dengan sawutan adalah
sebagai berikut;
1. Tentukan bidang dinding yang akan diberi plester dengan sawutan,
sebaiknya plester dulu dinding ini. Plesteran yang rata akan
mendapatkan hasil sawutan yang lebih baik.
2. Siapkan alat sawut, yaitu kawat ayam yang telah diberi bingkai kayu
atau kain (pilih salah satu). Alat-alat yang dipilih akan berpengaruh
pada tekstur yang terbentuk.
3. Pasir yang akan dipakai sebaiknya diayak agar bersih dari kerikil,
4. Buat adukan semen-pasir dengan perbandingan 1:3.
5. Aplikasikan adukan pada dinding yang sudah diplester tadi.
6. Jika menggunakan kawat ayam: lempar keras-keras adukan tersebut
dengan menggunakan sendok semen hingga menerobos kawat.
Adukan dilempar dari jarak sekitar 30cm.
7. Jika menggunakan kain: adukan cukup ditempel ke dinding dengan
menggunakan roskam setelah itu gosok dengan arah memutar.
8. Khusus untuk teknik kain, tunggu hingga hasil sawutan setengah
kering sebelum menggosok dinding dengan gerakan memutar
menggunakan roskam yang sudah diberi kain.
9. Diamkan hingga kering. Kemudian cat dengan cat emulsi sesuai
selera.